
Bersikap Amanah Dalam Memegang Janji
Syekh Abdul al-Qodir Jailani bercerita: “Suatu hari, di awal id al-Adha, aku pergi ketanah ladangku untuk membantu hingga aku turun ke ladang. Karena aku berjalan di belakang kawanan sapi, sapi-sapi itu menolehkan kepalanya kearahku dan berkata, ‘Engkau tidak diciptakan untuk (melakukan pekerjaan ) seperti ini!’ Aku sangat takut dan lari kerumah serta naik keatas genteng rumahku. Saat aku menerawang lepas aku menyaksikan para jamaah haji tengah bekumpul di padang Arafah, Saudi Arabia, tepat di depanku.
Aku mencari ibuku, seorang ibu yang kemudian menjanda, dan memohon kepadanya, ‘kirimkan aku untuk mencari jalan kebenaran (Allah), berilah aku izin utk berangkat ke Bagdad untuk mencari ilmu, bersekutu dengan orang-orang bijak dan orang-orang yang sangat dekat dengan Allah, ‘Ibuku menayakanku alasan apa yang membuatku tergesa-gesa mengambil keinginan ini. Aku menceritakan kepadanya tentang apa yang telah terjadi padaku. Dia menangis, lalu mengeluarkan delapan puluh keping emas, yg merupakan harta peninggalan ayahku sebagai warisan. Ibuku menyisihkan empat puluh keping untuk saudaraku. Empat puluh keping lainnya dia masukkan kedalam mantelku. Kemudian mengizinkan aku untuk segera berangkat, tetapi sebelumnya dia memintaku untuk teguh berjanji agar aku tetap bersikap jujur dan berada dalam kebenaran, dlm kondisi bagaimana pun.ibuku lalu mengucapkan kata-kata: “Mudah-mudahan Allah melindungi dan memberi petunjuk kepadamu, anakku. Aku rela berpisah dgn anakku yang paling aku sayangi demi (ridha) Allah. Aku tahu bahwa aku tidak akan melihatmu samapi hari pengadilan tiba.”
Aku pergi bersama rombongan kecil (kalifah) menuju Bagdad. Setelah kami meninggalkan kota Hamadan, gerombolan penjahat bersenjata,enam puluh penunggang kuda yang kuat-kuat, menyerang kami. Mereka merampas apa saja yang kami punya, salah seorang di antara mereka mendekatiku dan bertanya, ‘Anak muda, apa yang kamu punya?’ Aku katakan padanya bahwa aku punya empat puluh keping emas. Dia bertanya, “Dimana?” “Di bawah ketiak bajuku”, jawabku. Dia tertawa lalu meninggalkanku sendiarian. Penjahat yang lain juga mendekatiku dan menanyakan hal yang sama, dan aku pun menjawab dengan sebenarnya. Penjahat itu juga meninggalkanku. Mereka pasti menceritakan kejadian ini pada pemimpin mereka, karena mereka memanggilku untuk duduk di tempat pembagian hasil rampokan. Lalu dia bertanya padaku apakah aku memiliki barang-barang berharga. Aku katakan padanya bahwa aku mempunyai empat puluh kepingan kecil emas yang dijahit di bawah ketiak bajuku. Dia melepaskan jaketku, menyobek lengannya, dan menemukan emas itu. Kemudian dengan terkejut bertanya kepadaku, ‘kapan kamu menyimpan uangmu, apa yang mendorong kamu tetap bersikukuh mengatakan bahwa kamu mempunyai uang dan dimana ia disembunyikan? Aku menjawab, ‘Aku harus berkata jujur dalam kondisi apapun, seperti yang telah kujanjikan kepada ibuku’. Ketika pemimpin para perampok itu mendengar jawabanku ini ia mengucurkan air mata dan berkata, ‘Aku telah mengingkari janjiku pada tuhan yang telah menciptakan aku. Aku biasa mencuri dan membunuh. Nasib buruk apa yang bakal terjadi padaku?’ dan anak buah penjahat yang lain, sambil memperhatikannya, berkata, ‘engkau telah menjadi pemimpin kami selama bertahun-tahun dlm perbuatan dosa. Sekarang engkau juga menjadi pemimpin kami dalam penyesalan (pertobatan)!’ Enam puluh perampok tersebut memegang tanganku dan menyatakan penyesalan serta mengubah jalan hidup mereka. Enam puluh penjahat tersebut merupakan kelompok pertama yang memegang tanganku dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan mereka.
Aku pergi bersama rombongan kecil (kalifah) menuju Bagdad. Setelah kami meninggalkan kota Hamadan, gerombolan penjahat bersenjata,enam puluh penunggang kuda yang kuat-kuat, menyerang kami. Mereka merampas apa saja yang kami punya, salah seorang di antara mereka mendekatiku dan bertanya, ‘Anak muda, apa yang kamu punya?’ Aku katakan padanya bahwa aku punya empat puluh keping emas. Dia bertanya, “Dimana?” “Di bawah ketiak bajuku”, jawabku. Dia tertawa lalu meninggalkanku sendiarian. Penjahat yang lain juga mendekatiku dan menanyakan hal yang sama, dan aku pun menjawab dengan sebenarnya. Penjahat itu juga meninggalkanku. Mereka pasti menceritakan kejadian ini pada pemimpin mereka, karena mereka memanggilku untuk duduk di tempat pembagian hasil rampokan. Lalu dia bertanya padaku apakah aku memiliki barang-barang berharga. Aku katakan padanya bahwa aku mempunyai empat puluh kepingan kecil emas yang dijahit di bawah ketiak bajuku. Dia melepaskan jaketku, menyobek lengannya, dan menemukan emas itu. Kemudian dengan terkejut bertanya kepadaku, ‘kapan kamu menyimpan uangmu, apa yang mendorong kamu tetap bersikukuh mengatakan bahwa kamu mempunyai uang dan dimana ia disembunyikan? Aku menjawab, ‘Aku harus berkata jujur dalam kondisi apapun, seperti yang telah kujanjikan kepada ibuku’. Ketika pemimpin para perampok itu mendengar jawabanku ini ia mengucurkan air mata dan berkata, ‘Aku telah mengingkari janjiku pada tuhan yang telah menciptakan aku. Aku biasa mencuri dan membunuh. Nasib buruk apa yang bakal terjadi padaku?’ dan anak buah penjahat yang lain, sambil memperhatikannya, berkata, ‘engkau telah menjadi pemimpin kami selama bertahun-tahun dlm perbuatan dosa. Sekarang engkau juga menjadi pemimpin kami dalam penyesalan (pertobatan)!’ Enam puluh perampok tersebut memegang tanganku dan menyatakan penyesalan serta mengubah jalan hidup mereka. Enam puluh penjahat tersebut merupakan kelompok pertama yang memegang tanganku dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan mereka.


0 komentar:
Posting Komentar