The-Max

Mutih Blog's Wetan

Kisah Seorang Pendeta

Ada seorang pendeta yang sangat arif dan berpengaruh di Bagdad yang memiliki bayak pengikut. Pendeta ini memiliki banyak ilmu pengetahuan bukan hanya tradisi keilmuan Yahudi, Kristen, tetapi juga ilmu keislaman, dia mengetahui banyak tentang islam dan al-Qur’an dan sangat mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW. Khalifah menghormati pendeta itu dan berharap ia dan pengikutnya pada suatu saat nanti bisa menjadi Muslim. Memang, dia siap menerima agama ini (Islam), kecuali satu hal. Satu hal yang mencegahnya, untuk menerima atau memahami, adalah tentang mi’raj-nya Nabi Muhammad kelangit dalam hidupnya.

Mi’raj itu terjadi pada malam hari, Nabi Muhammad SAW berangkat badan dan jiwanya dari madinah ke Yerusalem dan dari sana dilanjutkan ke tujuh langit, dimana dia menyaksikan banyak peristiwa. Dia melihat Surga dan Neraka, dan naik terus hinnga bertemu Tuhan, yang menyampaikan sembilan puluh ribu kata dengan Muhammad. Nabi kembali sebelum tempat tidurnya berubah jadi dingin, dan sebelum daun yang telah disentuhnya dalam perjalanan berhenti bergetar.

Akal sang pendeta itu tak dpt menerima mi’raj-nya Nabi Muhammad SAW yang dikisahkan itu. Memang, ketika Nabi sendiri mengumumkan isra’-mi’raj- sehari setelah kejadian, banyak umat Islam yang tidak percaya dan meninggalkan agama mereka. Ini kemudian menjadi ujian bagi iman yang sejati, karena akal tak dapat memahami peristiwa semacam ini.

Khalifah memperkenalkan semua orang bijak dan ulama yang ada waktu itu kepada sang pendeta untuk menghilangkan keraguannya, tetapi tak satu pun yang berhasil. Kemudian di suatu malam khalifah mengirim surat ke Hadrat Syekh Abd al-Qodir Jailani, memintanya agar dia dapat meyakinkan pendeta itu tentang kebenaran peristiwa isra’ dan mi’raj

Ketika Syekh Abdul al-Qodir Jailani datang ke istana, dia mendapati sang khalifah dan pendeta tengah bermain catur ketika sang pendeta mengangkat bidak catur untuk memindahkannya, pandangannya menatap mata Syekh. Dia mengedipkan matanya… dan saat membuka matanya kembali dia tiba-tiba menemukan dirinya sendiri sedang terendam air sungai yang mengalir deras! Dia berteriak minta tolong ketika seorang penggembala muda meloncat ke air untuk menolongnya. ketika penggembala itu memeganginya, dia tersadar kalau dia telanjang dan berubah menjadi gadis belia!

Penggembala itu menariknya keluar dari air dan menanyakannya anak gadis itu siapa dan tinggal di mana. Ketika pendeta itu menyebut Bagdad, penggembala itu mengatakan bahwa mereka kini berada dan jaraknya beberapa bulan perjalanan dari kota ini. Penggembala itu menghormati perempuan itu dan menjaga serta melindunginya, tetapi akhirnya setelah perempuan itu tadak tahu kemana harus pergi, penggembala itu menikahinya. Mereka memiliki tiga anak, yang sedang beranjak dewasa.

Suatu hari setelah mencuci pakaian di sungai yang sama dimana dia pernah berjumpa beberapa tahun yang lalu, perempuan itu tergelincir dan jatuh ke sungai. Setelah membuka matanya… tiba-tiba dia sedang duduk di sebelah khalifah, sedang memegang anak-anak catur dan masih menatap mata Hadrat Syekh Abd al-Qodir Jailani, yang bertanya kepadanya, ‘Sekarang, tuan pendeta, apakah tuan masih tidak percaya?’

Sang pendeta tak yakin tentang apa yang telah terjadi padanya dan berfikir apakah semua ini mimpi, di jawab dengan kata-kata, “Apa artinya ini?” Mungkin tuan ingin melihat keluarga tuan?’ Sang wali mencari tahu. Setelah membuka pintu, disana berdiri penggembala dan tiga anakanya. Melihat hal ini, sang pendeta menjadi percaya. Dia dan pengikutnya berpindah menjadi Muslim atas peran Syekh Abd al-Qodir Jailani.

1 komentar:

  1. Unknown mengatakan...
     

    Mohon referensi kisah diatas untuk bahan pak 🙏

Posting Komentar