The-Max

Mutih Blog's Wetan

Dibalik Aksi Warga Desa Mutih Wetan

Adanya isu yang menyebutkan tentang persoalan politik menjelang pilkada di balik aksi warga Desa Mutih Wetan, Kecamatan Wedung yang menuntut mundur kepala desa setempat, Asmuni, mendapat sorotan pendukung pasangan Sutetyo-Khaeron.

Noor Khumyanah, Koordinator Komando Masyarakat Demak yang bersimpatik pada pasangan cabup Sutetyo-Khaeron menilai isu tersebut mengada-ada dan hanya untuk membelokkan persoalan yang semestinya terjadi di desa itu.

Menurut dia, pendukung Sutetyo-Khaeron tidak pernah berpikir untuk melakukan protes terhadap simpatisan cabup lain yang membagi-bagikan stiker. ''Jadi sangat tidak masuk akal kalau ada yang mengatakan, pedukung pasangan Sutetyo-Khaeron emosi gara-gara persaingan stiker,'' ujarnya didampingi Khaeron, Cawabup yang diusung gabungan Partai Golkar-Demokrat, di poskonya.

Seperti diberitakan sebelumnya, terjadinya aksi massa yang merusak rumah Kades Mutih Wetan, Asmuni, dan rumah Ketua BPD Mujtahid, Jumat (6/1), karena Asmuni diduga melakukan korupsi.

Sementara informasi lain yang berkembang di tengah masyarakat, ada kepentingan politik menjelang pilkada, antara dua pendukung calon bupati yang berbeda. Yakni pendukung pasangan Endang Setyaningdyah-Nurul Huda dengan Sutetyo-Khaeron.

Kepala desa dan ketua BPD dipandang mendukung pencalonan kembali Bupati Hj Endang Setyaningdyah. Kemungkinan latar belakang tersebut dibenarkan Mujtahid.

Khaeron menambahkan, dirinya yang juga Sekretaris Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Kecamatan Wedung mengatakan, pihaknya pernah membahas persoalan yang terjadi di Mutih Wetan. Pertemuan itu juga dihadiri Asmuni.

''Yang jelas di situ ada penjelasan Asmuni tentang penggunaan anggaran yang dituduh warganya sebagai tindakan korupsi. Kami hanya bisa menyarankan agar dia secepatnya menyelesaikan persoalan itu.''

Namun, ternyata masalahnya tidak kunjung usai, sehingga warga melanjutkan ke DPRD dan Pemkab. ''Kalau melihat gambaran itu, reaksi warga yang sudah berlangsung dua tahun lalu, jelas tidak terkait dengan persoalan politik. Apalagi koordinator Gerakan Pemuda dan Masyarakat Bersatu (GPMB), Qusayin telah membantahnya dengan mengatakan, tidak ada muatan politis dibalik tuntutan mundur kepala desa oleh warga.'' (Suara Merdeka)

0 komentar:

Posting Komentar