
Rumah Kades Mutih Wetan Di Rusak Massa
Ratusan warga Desa Mutih Wetan Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak merusak rumah milik kepala desanya, Asmuni dan Ketua Badan Perwakilan Desa, Mujtahid. Mereka mendesak Asmuni turun dari jabatannya lantaran diduga korupsi. Karena desakannya tak dipenuhi, massa emosi.
Perusakan itu terjadi Jumat (6/1) sekitar pukul 17.30. Semula warga meminta Asmuni hadir di kantor kelurahan untuk dimintai pertanggung jawaban. Namun yang bersangkutan tidak datang. Hal itu menyulut kemarahan warga. Massa yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda dan Masyarakat Bersatu (GPMB) itu kemudian menyegel kantor kelurahan dengan cara menutup pintu masuk dengan sejumlah kayu. Beberapa menit kemudian petugas dari Kepolisian Resor Demak tiba di lokasi.
Perusakan itu terjadi Jumat (6/1) sekitar pukul 17.30. Semula warga meminta Asmuni hadir di kantor kelurahan untuk dimintai pertanggung jawaban. Namun yang bersangkutan tidak datang. Hal itu menyulut kemarahan warga. Massa yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda dan Masyarakat Bersatu (GPMB) itu kemudian menyegel kantor kelurahan dengan cara menutup pintu masuk dengan sejumlah kayu. Beberapa menit kemudian petugas dari Kepolisian Resor Demak tiba di lokasi.
Perhatian warga beralih ke rumah kepala desa. Tidak berapa lama, beberapa warga yang berada di samping rumah itu melempar barang-barang keras. Karuan genting dan kaca jendela rumah tersebut pecah. Saat kejadian, Asmuni bersama keluarganya sudah mengungsi di tempat saudaranya.
Petugas yang mengetahui hal itu langsung menghalau massa agar tidak bertindak anarkis. Setelah petugas memberikan tembakan peringatakan ke udara, massa berangsur bubar.
Ternyata mereka beralih ke rumah Ketua BPD Mujtahid yang lokasinya hanya berjarak 500 meter dari rumah kepala desa. Massa bertindak begitu cepat merusak rumah tersebut dengan memecah kaca jendela, kaca pentilasi dan melempari bari ke arah genting. Rumah itupun sudah ditinggalkan penghuninya dengan bersembunyi di rumah tetangganya. Massa yang tampat brutal itu lari kalang kabut ketika puluhan personel polisi datang.
Sebelum terjadi pengrusakan, beberapa warga menyita sepeda motor dinas kepala desa dan ketua BPD berupa Honda Legenda disita warga. Saudara dekat Asmuni, Sarno (43) menuturkan kemarahan warga memuncak setelah tuntutan mereka tidak direspons Asmuni. Kepala desa yang akan habis masa jabatannya tahun 2007 itu keberatan meletakan jabatan jika tidak sesuai mekanisme yang berlaku. Apalagi, dugaan yang dituduhkan kepadanya sedang dalam proses pemeriksaan Bawasda.
Pada Rabu (4/1) tim dari Bawasda telah melakukan pemeriksaan terhadap persoalan yang diadukan warga. ''Pemeriksaan itu justru dinilai warga sebagai pembenaran bahwa telah terjadi penyimpangan anggaran. Padahal belum ada hasil apapun, semua baru dugaan,'' terang Sarno yang menunggu rumah Asmuni.
Mujtahid menjelaskan, kemarahan warga terhadap dirinya karena dinilai sebagai orang yang terlibat dalam persengkokolan melakukan korupsi. Padahal, tuduhan itu tidak benar. Sebagai ketua BPD, dirinya mengaku tahu persis setiap kebijakan yang diambil kepala desa. ''Semua keputusan yang menyangkut desa, Asmuni selalu menggelar rapat desa yang melibatkan tokoh masyarakat dan perangkat. Jadi keputusanya adalah kebijakan desa.''
Sementara Siti Khatijah (40) isteri Mujtahid menyela dengan mengatakan tidak habis pikir orang-orang yang selama ini dikenalnya begitu beringas merusak rumahnya. Dia pun hanya bisa menangis sambil memeluk anak-anaknya yang bersembunyi di rumah tetangganya. Massa yang berteriak dengan menyebut nama tuhan merusak rumahnya dengan batu, bata dan batang kayu.
Stiker calon bupati
Sementara informasi lain yang berkembang di tengah masyarakat, ketegangan terjadi karena kepentingan politik menjelang pilkada, antara dua pendukung calon bupati yang berbeda. Yakni pendukung pasangan Endang Setyaningdyah-Nurul Huda dengan Sutetyo-Khaeron.
Kepala desa dipandang mendukung pencalonan kembali Bupati Hj Endang Setyaningdyah. Apalagi Mujtahid termasuk orang yang paling giat menyebar dan memasang stiker bergambar Endang-Nurul Huda di rumah-rumah warga.
Terhadap isu itu, Mujtahid mengatakan bisa saja benar. Dirinya yang juga ketua PAC PDI-P Wedung memiliki tanggungjawab untuk mensukseskan calon yang diusung partainya. ''Mungkin langkah saya tersebut membuat mereka panas, sehingga memicu ketegangan. Itu memang konsekwensi bagi aktivis parpol. Tetapi semestinya tidak seperti itu, kalau mereka membagi stiker pasangan cabup kepada warga, saya pun tidak akan ikut campur.''
Dihubungi secara terpisah Koordinator Gerakan Pemuda dan Masyarakat Bersatu (GPMB), Qusayin mengatakan, tidak ada muatan politis dibalik tuntutan mundur kepala desa oleh warga. ''Warga menilai kepala desa korup, sehingga pantas mundur,'' katanya.
Terkait tindak anarkis massa, dia mengaku sudah berusaha menghalang-halangi warga agar tidak bertindak anarkis. Tetapi mereka nekat melakukan hal tersebut. Hingga Sabtu (7/1) sore, kedua rumah milik perangkat desa tersebut masih dijaga aparat Polres Demak. Tampak di antaranya Kepala Kepolisian Sektor Wedung AKP Suyuti SH.
( Hasan Hamid-Suara Merdeka)


0 komentar:
Posting Komentar